PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / ADAKAH PEMIMPIN SEPERTI SALOMO DI GPIB?

ADAKAH PEMIMPIN SEPERTI SALOMO DI GPIB?

Politik dalam pelayanan itu ada dan nyata. Kita tidak perlu munafik dengan mengatakan bahwa semuanya semata-mata pekerjaan Tuhan….

JAKARTA, gpibwatch.id – Kepemimpinan Raja Salomo menawarkan fondasi yang berbeda, yaitu kepemimpinan yang berpusat pada Allah. Salomo memulai pemerintahannya dengan mencari dan mengandalkan Yahweh untuk memperoleh Hikmat Ilahi (Chokmah).

Kekuatan Salomo tidak berasal dari warisan ataupun ambisi pribadinya, melainkan dari pengakuan akan kedaulatan Allah atas Israel dan pencarian akan hikmat Allah sebagai dinamisator dan katalisator kepemimpinannya.

Kepemimpinan Salomo bukan berbasis pada kecakapan, prestasi, dan jasa semata, tetapi berpusat pada komitmen untuk menjadikan nilai moral dan etika spiritual sebagai pusat visi, misi, dan kinerja.

Inilah paradigma spiritualitas kepemimpinan yang esensial: kekuasaan dan kemuliaan sejati adalah mandat dari surga, bukan semata-mata hasil upaya pribadi. Salomo memahami bahwa untuk menjadi pemimpin yang kuat, ia harus terlebih dahulu memohon campur tangan dan kuasa Allah (2 Tawarikh 1:1).

Salahkah Kita Memilih Individu Unggul MS XXII ?

Salomo tidak meminta umur panjang, kekayaan, ataupun pemusnahan musuh. Ia meminta hikmat (Chokmah), yang bukan hanya kecerdasan kognitif, tetapi juga kemampuan praktis dan spiritual untuk memerintah dengan keadilan (mishpat) dan kebenaran (tsedeq). Ia juga meminta yada, hati yang mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat. Inilah rupa dan definisi sejati kepemimpinan Kristiani.

Hal ini berbeda dengan model kepemimpinan yang lebih berbasis pada kemampuan intelektual dan moral manusia. Filsuf Yunani kuno, Plato, merumuskan konsep “Raja Filsuf” (Philosopher King): seorang pemimpin ideal yang mengandalkan kebijaksanaan tinggi dan karakter moral, seperti keadilan dan keberanian, untuk mencapai kebenaran universal dan memimpin masyarakat.

Bagian di atas disadur dari SBU GPIB, 4 Maret 2026.

Lalu, bagaimana dengan kita di GPIB? Adakah pemimpin seperti Salomo di GPIB hari ini?

Pertanyaan ini patut menjadi kontemplasi bagi para pelayan yang memegang kendali dalam pelayanan. Kepemimpinan pelayanan seharusnya tidak dijalankan berdasarkan emosi, ambisi, ataupun kepentingan tertentu, melainkan dengan hikmat Tuhan dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan setiap persoalan pelayanan.

Giat Layan Membangun Jemaat Di Ranai (2): Ketika Parang Ikut Bicara, Jangan Ganggu Kami…

Mari kita meninjau secara retrospektif dan merenungkan kembali bagaimana seorang pemimpin terpilih dan melalui mekanisme seperti apa. Hal ini penting untuk direfleksikan, bukan hanya mengenai siapa yang terpilih, tetapi juga bagaimana proses menuju kepemimpinan itu berlangsung.

Kita mengetahui bersama bahwa prosedur dan ketetapan telah dibuat dan ditetapkan. Namun, dalam praktiknya masih mungkin terdapat celah yang memungkinkan seseorang masuk menjadi pemimpin ataupun menjadi bagian dari kepemimpinan melalui berbagai cara.

Terlepas dari itu semua, mari kita meninjau kembali bagaimana Persidangan Sinode Raya mencari dan menentukan seorang pemimpin dengan mengatasnamakan Tuhan. Apakah prosedur dan proses yang berlangsung benar-benar mencerminkan kehendak dan nilai-nilai Ilahi?

Ataukah terkadang berbagai cara ditempuh agar hasrat dan keinginan tertentu terpenuhi, dengan menonjolkan kepentingan pribadi maupun kelompok?

Politik dalam pelayanan itu ada dan nyata. Kita tidak perlu munafik dengan mengatakan bahwa semuanya semata-mata pekerjaan Tuhan, lalu siapa pun yang terpilih begitu saja dianggap sebagai kehendak Tuhan. Sebab, jika prosesnya masih diwarnai kepentingan, lobi, dan berbagai pendekatan manusia, bukankah proses itu sendiri juga patut kita kritisi dan refleksikan?

Pengacara Semuel Uruilal: “Tidak Ada Unsur Pidana Di Perkara Pdt. Ebser, Penyidik Segera Periksa FMS 22″

Pertanyaan kemudian, bagaimana dengan Majelis Sinode GPIB XXII? Sudahkah kepemimpinan yang dijalankan mencerminkan kepemimpinan seperti Salomo—kepemimpinan yang mencari hikmat, menjunjung keadilan dan kebenaran, serta menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok?

Ataukah kita masih harus terus bertanya: di manakah spirit Salomo itu dalam kepemimpinan GPIB hari ini?

Di depan mata kita dapat terjadi pelobian. Bahkan dalam pemilihan di Persidangan Sinode Raya, pendekatan dan pelobian dapat terjadi dari berbagai lini, termasuk melalui sarana digital untuk memohon dukungan agar calon tertentu terpilih.

Jika pendekatan manusia lebih dominan daripada pendekatan Ilahi, mungkinkah kita mengharapkan hasil kepemimpinan yang sempurna? Pertanyaannya sederhana: apakah ini sudah benar?

Terkadang kita tidak sepenuhnya jujur, adil, dan benar dalam proses memilih pemimpin. Cara-cara duniawi dapat saja digunakan, kemudian dibungkus dengan nama Tuhan. Kita sama-sama tahu!

Salomo justru menunjukkan jalan yang berbeda. Ia meminta hikmat, keadilan, kebenaran, dan yada, agar selama memimpin ada pertolongan Tuhan yang bekerja. Sebagai mandataris pemerintahan Ilahi, seorang pemimpin harus melakukan pekerjaan pelayanan dengan sungguh-sungguh serta menjaga dirinya agar tidak tercemar oleh kepentingan dan dosa.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang akan menjadi pemimpin di GPIB, tetapi jauh lebih mendasar: Adakah di antara kita pemimpin seperti Salomo—yang sungguh-sungguh mencari hikmat Tuhan, bukan sekadar mencari dukungan manusia?

Kontributor – JP

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *