JAKARTA, arcus.id – Alkisah, ada seorang raja di sebuah kerajaan Entah Berantah. Suatu kali, raja itu ingin mengajari sekaligus memamerkan kepintarannya di hadapan para punggawanya. Maka, ia mengumpulkan mereka dalam suatu sidang istimewa dan rahasia.
Pada hari yang telah ditentukan, raja datang ke ruang sidang. Namun, ia datang dengan membawa seekor ayam. Ayam itu diletakkan di atas meja sehingga semua yang hadir dalam sidang dapat melihatnya. Para punggawa pun keheranan.
Raja segera memulai sidang. Ia mendekati ayam itu, lalu dengan sigap dan tangkas mencabuti bulu-bulunya. Tentu saja ayam itu kesakitan, tetapi raja tidak peduli dan terus mencabuti bulunya.
Setelah beberapa saat, raja melepaskan ayam itu. Ayam tersebut langsung berlari menjauhi sang raja. Para punggawa masih menyaksikan peristiwa itu sambil bertanya-tanya apa maksud sang raja.
Raja membiarkan ayam itu berlarian ke sana kemari dalam kebingungan dan ketakutan. Namun, tiba-tiba raja mengeluarkan segenggam beras dari kantung ajaibnya dan memberikannya kepada ayam tersebut.
Anehnya, ayam itu segera mendekat dan mematuki beras. Ayam tersebut diam saja sambil terus mematuki beras ketika raja mengelus-elus punggungnya. Ia menjadi jinak dan tidak takut lagi kepada sang raja.
Raja kemudian tertawa terbahak-bahak. Lalu, ia mulai menjelaskan bahwa begitulah cara tipu muslihat untuk menguasai dan mengendalikan ayam tersebut.
Ayam yang malang itu diibaratkan sebagai rakyat yang miskin dan kurang berpendidikan. Beri mereka makanan, maka rakyat yang tidak memiliki kesadaran kritis akan mudah melupakan kesalahan dan kekejaman yang pernah kalian lakukan, bahkan menganggap kalian sebagai orang yang sangat baik dan berjasa besar. Buatlah mereka menikmati berbagai gimmick agar terus-menerus berada dalam euforia.
Namun ingat, kata sang raja, kalian harus terus memelihara kebodohan dan kemiskinan itu agar mereka selalu bergantung kepada kita dan mudah dikendalikan.
Para punggawa pun riuh bertepuk tangan. Mereka kagum pada kejeniusan sang raja dan bersumpah setia untuk melaksanakan ajarannya dengan sebaik-baiknya. Disadur dari kisah yang dibagikan oleh dr. Kasan Susilo melalui WhatsApp.
REFLEKSI KEHIDUPAN KEKINIAN
Pandangan di atas merupakan gambaran pro dan kontra dalam kehidupan kekinian. Ada yang menganggap cara tersebut sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan dan jabatan dengan menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan kekuatan finansial untuk merayu, menggoda, bahkan menekan pihak lain.
Tanpa disadari, para penerima bantuan dapat dijadikan alat kepentingan atau sapi perah politik karena keterbatasan pendidikan dan kondisi ekonomi mereka.
Namun, dari sisi kemanusiaan (humanity) dan keadilan sosial, tindakan seperti ini tentu tidak wajar dan tidak patut dijadikan panutan. Sikap tersebut tidak beradab karena hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok.
Seorang pemimpin seharusnya mampu menyejahterakan rakyatnya, memiliki kepedulian terhadap segala keluhan dan persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan justru mengambil keuntungan dari kebodohan dan kemiskinan rakyatnya.
Narasi di atas mengingatkan kita sebagai rakyat bahwa praktik semacam ini dapat terjadi, meskipun sering kali tersembunyi atau tidak tampak secara langsung. Kalaupun terlihat, rakyat jangan mau terus dibodohi dengan cara-cara seperti itu.
Kehidupan modern menuntut kita untuk terus belajar melalui literasi agar cakrawala berpikir semakin berkembang dan kita mampu memahami berbagai peristiwa yang terjadi secara lebih kritis dan objektif.
Tak ada kata terlambat untuk maju, tiada kata terlambat untuk memilih pemimpin yang berkualitas, dan tak ada kata terlambat untuk belajar dari kesalahan masa lalu.
Kita harus berubah dengan melakukan hal-hal yang tidak merusak moral dan nilai-nilai kehidupan hanya karena diiming-imingi sesuatu demi kesenangan sepihak segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, yang rela merusak tatanan dan aturan demi nafsu serta ambisi kekuasaan./JP

Comment